Fiqih Sosial | Kuliah 04

Fikih Sosial · Pertemuan 4

Maṣlaḥah dan Maqāṣid: Maslahat Menurut Siapa?

Pekan lalu kita membahas perubahan dari fikih normatif menuju fikih yang berpihak. Pekan ini kita menguji dua istilah yang sering digunakan untuk menjelaskan tujuan dan manfaat hukum Islam: maṣlaḥah dan maqāṣid.

Ketika suatu keputusan disebut “demi kemaslahatan”, maslahat bagi siapa?

Fokus Pertemuan

Kita akan mengenali perangkat dasar maṣlaḥah dan maqāṣid al-sharīʿah, lalu menggunakannya untuk membaca persoalan sosial.

Sebuah kebijakan dapat memberi manfaat kepada sebagian orang dan menimbulkan kerugian bagi pihak lain. Karena itu, kita akan memperhatikan siapa yang menentukan apa yang disebut maslahat, siapa yang didengar, dan siapa yang menanggung akibatnya.

Pertanyaan pengarah: Bagaimana kerangka tujuan syariat membantu kita menilai suatu kebijakan, dan pengalaman siapa yang harus hadir dalam penilaian itu?

Setelah Mengikuti Pertemuan Ini

1
Menjelaskan hubungan antara maṣlaḥah, mafsadah, dan maqāṣid.
2
Mengenali pembagian dasar kebutuhan dalam maqāṣid klasik.
3
Menggunakan satu tujuan syariat untuk membaca manfaat dan kerugian dari sebuah kebijakan.
4
Menjelaskan mengapa pihak yang terdampak perlu ikut menentukan apa yang disebut maslahat.

Bacaan Sebelum Kelas

Baca Arif Maftuhin, Paradigma Fikih Sosial, Bab 3. Fokuskan perhatian pada pembahasan maṣlaḥah, maqāṣid, dan hubungan keduanya dengan otoritas dalam menentukan kemaslahatan.

Panduan membaca Bab 3
  • Bagaimana buku menjelaskan kemungkinan sekaligus keterbatasan penggunaan maṣlaḥah dan maqāṣid?
  • Siapa yang biasanya diberi wewenang untuk menentukan maslahat?
  • Apa yang berubah jika pengalaman kelompok terdampak ikut menjadi sumber pertimbangan?

Bacaan pendamping singkat: Jasser Auda, Maqasid al-Shariah: A Beginner’s Guide, bagian pengantar tentang tingkatan kebutuhan dan lima tujuan pokok. Bacaan ini membantu Anda mengenali istilah dasar; kita akan membahas penggunaannya di kelas.

Saat Membaca

Siapkan dua catatan pendek untuk dibawa ke kelas. Tulis dengan kata-kata sendiri dan sertakan nomor halaman dari Bab 3.

Catatan A
Janji kemaslahatan

Temukan satu alasan mengapa maṣlaḥah atau maqāṣid berguna saat fikih menghadapi persoalan baru.

Catatan B
Pertanyaan kritis

Temukan satu bagian yang membuat Anda bertanya: siapa yang berwenang menentukan maslahat dan pengalaman siapa yang belum didengar?

Bawa ke kelas: kedua catatan tersebut dan satu contoh kebijakan atau praktik di sekitar Anda yang dianggap bermanfaat, tetapi mungkin merugikan pihak lain.

Video Pengantar

Gunakan caption atau transkrip video jika Anda lebih nyaman mengikuti penjelasan melalui teks.

Sebelum Datang ke Kelas

  • Baca Bab 3 Paradigma Fikih Sosial dengan panduan pertanyaan di atas.
  • Kenali istilah dasar maqāṣid dari bacaan pendamping.
  • Catat dua temuan beserta nomor halaman.
  • Siapkan satu contoh persoalan sosial untuk didiskusikan.
  • Bawa buku atau catatan yang mudah Anda baca selama kegiatan kelas.
Instruksi, kasus, dan pertanyaan diskusi akan ditampilkan secara tertulis di kelas. Anda dapat berpartisipasi melalui penjelasan lisan maupun tulisan.

Apa yang Akan Kita Kerjakan di Kelas?

1. Menilai satu kebijakan

Kita mulai dari contoh relokasi pedagang kaki lima: siapa memperoleh manfaat, siapa berpotensi menanggung kerugian, dan informasi apa yang masih perlu kita cari?

2. Mengenali perangkat dasar

Kuliah mini dan studi teks membantu kita memahami maṣlaḥah, mafsadah, serta tingkatan kebutuhan dalam maqāṣid.

3. Menguji argumen maqāṣid

Kelompok akan menggunakan kerangka maqāṣid untuk menyusun dan membandingkan alasan tentang kasus yang sama.

4. Mendengarkan pihak terdampak

Melalui simulasi percakapan para pihak, kita menilai apakah setiap suara memiliki kesempatan yang sama untuk memengaruhi keputusan.

Hasil Kerja Pertemuan 4

Di kelas, kita akan menyusun peta bersama tentang manfaat, kerugian, pihak terdampak, dan dasar penilaiannya.

Setelah kelas · Peta Maslahat
Pilih satu kebijakan atau praktik sosial. Buat bagan satu halaman yang menunjukkan: kebijakan → manfaat dan mafsadah → pihak yang terdampak → tujuan syariat yang relevan → siapa yang menentukan maslahat → suara yang perlu didengar.
Refleksi singkat
Tambahkan jawaban maksimal 100 kata: apakah menyebut sesuatu “maslahat” sudah cukup untuk menjadikannya adil? Simpan hasilnya untuk portofolio mata kuliah.

Saat mendengar klaim “demi kemaslahatan”, tanyakan:

Maslahat bagi siapa? · Ditentukan oleh siapa? · Siapa menanggung mafsadah?

Comments

Thoughts, questions, and responses are welcome.